Friday, June 10, 2011

teRbeLenggu di Dlm SangKaR EmAs..

assalamualaikum??he sumer..lmenye aku xb'blog nie..hm...kali nie aku nk share ngan stu note yg aku bce kat FB..note nie sgt m'dlm mknenye..me2la kte renungkan bersame k...


Pernahkah kita memperhatikan burung yg terbang bebas di udara? Burung itu terbang tanpa ada yg mengatur, ataupun memaksanya harus kemana. Ia pergi kearah manapun benar2 atas kemauannya sendiri. Begitulah biasanya orang bijak memberikan ilustrasi mengenai manusia yg merdeka. Sedangkan burung yg terkungkung dalam sangkar, walaupun sangkar itu terbuat dari emas, tidak pernah disimbolkan sebagai kemerdekaan, tetapi sebaliknya disimbolkan sebagai perbudakan.

Banyak orang yang merasa dirinya sebagai orang yang merdeka, karena bisa melakukan apa saja yang disukainya, tidak peduli itu baik atau buruk, benar atau salah. Tetapi pada hakikatnya mereka tidak lebih dari seorang budak. Hal ini disebabkan karena jiwanya terbelenggu, tidak dapat bebas bergerak. Baik terbelenggu oleh harta, kekuasaan, syahwat ataupun segala macam bentuk bentuk2 kesenangan nafsu lainnya. Al-Quran menerangkan, orang seperti ini adalah orang yang ber”tuhan”kan pada hawa nafsunya.

Sebenarnya hati manusia selalu ingin menuju pada hal2 yang baik saja. Buktinya bila kita tanya pada siapapun apakah ia ingin menjadi orang baik atau orang jahat, niscaya ia akan memilih menjadi orang yang baik. Dalam bahasa agamanya hal itu dikatakan sebagai sifat hanif, yaitu kecenderungan hati yang selalu menuju pada kebaikan. Bukankah kita semua ingin mempunyai sifat2 utama  seperti sabar, ikhlas, pemaaf dan lapang dada? Itulah bukti bahwa manusia pada dasarnya memang bersifat hanif.

Dalam suatu hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman :
”Sesungguhnya telah Ku-ciptakan hamba-hamba-Ku berwatak hanif, tetapi datang kepada mereka setan, maka diselewengkannya mereka dari agama mereka”

Kini jelaslah bagi kita bahwa orang yg merdeka itu adalah orang yg hati nuraninya tidak terbelenggu oleh apapun, sehingga ia akan dapat untuk mempertahankan sifat hanifnya.
Sebaliknya orang yg kehilangan kemerdekaanya itu adalah sama halnya dengan burung yang terkungkung dalam sangkar. Sehebat apapun harta dan kedudukannya tetap saja ia menjadi tawanan atau budak yg tidak mampu lagi mengikuti hati nuraninya.

Diriwayatkan dalam perang Shiffin, sayidina Ali bin Abi Thalib terlibat perkelahian satu lawan satu dengan musuhnya. Sudah robek2 pakaian perang beliau, darahpun telah bercucuran, namun musuh itu kelewat tangguh sehingga belum bisa dirobohkannya. Bahkan pada suatu kesempatan pedang musuh melayang nyaris menebas batang leher beliau. Tetapi dengan tangkas sayidina Ali mengelak sambil mempergunakan siasat sehingga musuhnya itu dapat dijatuhkannya. Lalu bagaikan harimau sayidina Ali menindih tubuh itu. Senjatanya sudah siap dihujamkan ke jantungnya. Dalam detik itu tiba2 musuhnya meludahi wajah beliau. Sayidina Ali marah bukan kepalang. Tapi yang aneh justru senjatanya dilemparkan, dan musuhnya dilepaskan dari kematian.
“Mengapa tuan melepaskan saya? Mengapa tuan urung membunuh saya?” tanya orang itu keheranan.
Dengan menahan rasa marah yg amat sangat, sayidina Ali berkata :
“Aku tidak mau membunuhmu dengan kemarahan menguasai diriku akibat kau ludahi mukaku,
Aku tidak mau mengotori perjuanganku dengan luapan rasa marah atau benci pribadi!”

Inilah contoh orang yang merdeka. Jiwanya benar-benar tidak mau tunduk pada hawa nafsunya. Ia hanya mau tunduk pada perintah Allah dan RasulNya saja.

Dalam suatu kisah, diceritakan ada seorang raja yg ingin membunuh tawanannya. Mengetahui hal ini, kontan tawanan itu mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa daerahnya yg tentu saja tidak dimengerti oleh sang raja.
“Apa katanya?” tanya raja pada para menterinya.
Salah seorang menterinya yg berhati emas berkata,
“Baginda, dia mengatakan bahwa Tuhan telah berfirman : ‘Orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia maka surgalah ganjarannya’.”

Rupanya hati raja tersentuh mendengar ini, dan tidak jadi membunuh tawanan itu.
Menteri yang lain, saingan menteri yg tadi berkata, “Baginda, sebenarnya yg dikatakan oleh tawanan itu bukanlah demikian. Ia telah mengucapkan caci maki yg sangat keji terhadap baginda!”

Mendengar perkataan ini raja gusar dan berkata kepada menterinya itu, “Kebohongan yg dia ucapkan lebih bisa diterima ketimbang kebenaran yg kamu ucapkan. Karena dia mengucapkannya dengan maksud baik, sedangkan kamu mengucapkannya dengan niat buruk.”

Inilah contoh orang yg jiwanya dibelenggu oleh hawa nafsunya. Demi mengangkat karirnya ia rela menjadi penjilat, atau bahkan melakukan perbuatan yg lebih keji dari itu.

Sebenarnya Allah telah memberi senjata pada kita agar jangan sampai terkurung sehingga menjadi budak. Senjata yang hebat itu adalah “HARGA DIRI”. Harga diri kita sebenarnya tidak pernah rela bila kita dijadikan budak. Ia pasti akan melawan. Cobalah katakan pada hati nurani kita dengan sejujurnya bahwa saat ini kita sedang menjadi budaknya kenikmatan, kesenangan duniawi ataupun budaknya nafsu, niscaya harga diri ini akan segera mengangkat senjata. Tetapi bagaimana mungkin ia akan melawan, kalau kita sendiri telah membuang senjata atau harga diri itu!

Nampaknya kita harus sering2 memohon kepada Allah agar kita dapat menjadi hamba Allah  yg sebenar-benarnya, yaitu yg jiwanya selalu merdeka, tidak terbelenggu lantaran takut tidak kebagian perhiasan dunia.
Untuk itu tidak ada jalan lain, marilah kita kibarkan bendera jihad untuk menundukkan nafsu sesuai firman Allah berikut :

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”
(Qs. An-Naazi’aat 79:40-41)






create by ComeyyCumeyy

No comments:

Post a Comment